Merdeka Belajar, Case Based Learning, dan Project Based Learning: Sebuah Refleksi

Inspirasi tulisan ini berasal dari ingatan saya tentang ucapan dari Ibu Erni Ekawati, salah satu dosen Fakultas Bisnis UKDW, yang mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa UKDW dipersiapkan sebagai manusia-manusia yang siap belajar, bukan siap kerja. Saya sangat setuju. Mengapa? Ada dua isu krusial. Pertama, sumber belajar. Dunia sekarang sangat dinamis. Sebelum munculnya teknologi internet dan digital, sumber belajar paling utama adalah kelas. Siswa dan mahasiswa tidak akan mendapatkan ilmu apa-apa jika tidak masuk kelas. Namun, sekarang? Sumber belajar terbuka lebar. Teknologi internet telah mendemokratisasi pengetahuan. Para pemilik pengetahuan (semua orang, tidak hanya para akademisi) dapat membagikan apa yang dia ketahui di internet, melalui berbagai platform dan kita dapat mengaksesnya. Dalam literatur manajemen pengetahuan, ini disebut dengan kodifikasi atau eksternalisasi. Pada akhirnya, kelas kuliah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Lantas, bagaimana perubahan yang harus kita lakukan?

Kedua, siklus hidup pengetahuan. Dampak lain dari terdemokratisasinya pengetahuan melalui teknologi digital dan dinamisnya perubahan dunia hari ini adalah siklus hidupnya relatif semakin pendek. Apa yang kita ketahui 10 tahun atau 5 tahun lalu atau bahkan 5 hari yang lalu, bisa jadi tidak relevan lagi menghadapi hari ini dan masa depan. Ada banyak istilah baru yang muncul. Ada banyak definisi baru yang muncul. Fenomena ini disebut emergence. Akhirnya apa? Bagi kita yang memiliki isu kemelekatan (attachment) dengan bidang ilmu kita, dengan materi lama kita, dengan pengetahuan lama kita, bisa jadi membuat kita tidak berhasil memperbaharui diri. Oleh karena itu, betapa pentingnya membudayakan proses yang dalam literatur manajemen pengetahuan disebut sebagai unlearning-learning-relearning. Dekonstruksi dan rekonstruksi. Siap untuk dibaharui. Siap untuk dibangun ulang. Ada kerendahhatian intelektual (intellectual humility).

Ringkasnya, saya memaknai siap belajar dengan mempersiapkan mahasiswa sebagai manusia yang berpikir merdeka. Ada keteguhan, otonomi, dan integritas dalam berpikir dan bertindak. Mereka juga seharusnya adil sejak dalam pikiran, sebagaimana Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis kebanggaan Indonesia, sampaikan. Biarlah mereka tidak disuapi dalam proses belajar, tapi dihidupkan ‘api’ pikiran sehingga mereka menjadi orang-orang yang terus penasaran, orang-orang yang terus bertanya: tentang eksistensinya dalam dunia ekonomi, politik, budaya, sosial. Tentang makna dan tujuan hidupnya. Tentang kebermanfaatan hidupnya untuk orang lain dan alam ini.

Case-Based Learning

Bagi saya, tujuan utama dari case-based learning adalah membangun empati dan nalar kritis mahasiswa.  Level kognitif pada taksonomi Bloom di model pembelajaran ini adalah level analisis dan evaluasi. Cara berpikir kritis adalah cara berpikir yang tidak puas hanya bermain di permukaan, tetapi ingin menggali dan menyelami lebih dalam, mencari akar masalah secara radikal (radix=akar), memaknai makna di balik makna, mendalami situasi di belakang layar suatu peristiwa. Format pembelajaran yang terjadi di kelas tidak lagi ceramah panjang, tetapi proses konfirmasi, diskusi, dan bahkan debat. Saya mencoba menerapkan ini di kelas Prinsip-Prinsip Bisnis dengan menugaskan tiap kelompok mencari studi kasus sehari-hari tentang usaha bisnis di sekitar mereka. Mereka mewawancarai pemilik usaha dengan fokus pertanyaan pada topik yang dibahas sesuai rencana pembelajaran semester. Secara asinkronus, mereka meminta masukan rancangan studi kasus yang dibuat dari saya dan akhirnya mereka akan membuat studi kasus tersebut dalam video kreatif berdurasi maksimal 5 menit, diputar di kelas sinkronus. Tautan video kreatif sudah disebarkan satu hari sebelum kelas sinkronus dan mahasiswa-mahasiswa lain menonton. Mahasiswa-mahasiswa lain kemudian diwajibkan membuat pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap studi kasus ini. Kemudian, ketika di kelas sinkronus, saya berperan sebagai moderator/fasilitator dengan terus-menerus melontarkan pertanyaan ala Socratic Questioning. Cara bertanya ini adalah cara bertanya kritis yang memungkinkan orang yang diajak berdiskusi mengeluarkan perspektifnya, cara pandang dunianya, dan pendirian-pendiriannya tentang suatu kasus.

Sebagai tambahan, ada satu pendapat pribadi saya tentang mengapa banyak keluhan mengapa mahasiswa tidak aktif bertanya di kelas. Anggaplah ini hipotesis dan sangat terbuka untuk diperdebatkan. Budaya pendidikan kita belumlah budaya yang mendorong orang merdeka bersuara. Sejak kecil, tidak sedikit dari kita yang ketika memberikan pendapat di keluarga, dianggap “masih belum tahu apa-apa” “masih kecil” “masih muda”. Kita sudah dibungkam sejak kecil. Belum lagi penghargaan terhadap kemerdekaan berpendapat yang sangat kurang ketika mengalami bangku sekolah. Senioritas sangat menonjol. Feodalisme masih merajalela. Klaim ini setidaknya melalui pengalaman personal saya. Tentu saja, ini dapat dilanjutkan dengan wawancara mendalam untuk membuktikan hipotesis ini. Belum lagi kalau kita berbicara tentang pembungkaman struktural/sistemik akibat ketidakadilan dan ketimpangan. Ini sangat bisa dibicarakan di tulisan atau diskusi terpisah.

Project-Based Learning

Bagi saya, tujuan utama project-based learning adalah melatih mahasiswa untuk berpikir sistem dan berpikir desain. Level taksonomi Bloomnya adalah kreasi. Berpikir sistem adalah cara berpikir yang holistik, tidak silos atau tidak ego sektoral. Cara berpikir sistem adalah cara berpikir sintesis yang menyadari bahwa ada saling keterhubungan antar bagian sehingga menyelesaikan masalah harus terintegrasi. Berpikir desain adalah berpikir dengan selalu membuat peta empati untuk mengidentifikasi kebutuhan dan masalah di sekitar dan akhirnya merancang solusi, baik dalam bentuk produk, layanan, atau solusi lainnya. Kedua cara berpikir ini dapat dirancang di berbagai tugas kuliah.

Tugas mata kuliah nampaknya tidak perlu terlalu banyak. Sedikit tetapi fokus dan diulas setiap minggu pertemuan. Tidak adil rasanya memberi tugas karya dengan berstandar tinggi, tetapi tidak mendampingi dan memberi masukan secara rutin. Dengan memberi masukan secara rutin, mahasiswa dapat diajak untuk menghayati salah satu nilai UKDW: striving for excellence. Bahwa ketidaktahuan bukanlah “dosa”. Tahu bahwa dia tidak tahu adalah permulaan pengetahuan. Yang menjadi “dosa” adalah ketika ia bebal dan tidak mau memperbaharui diri setelah diberikan masukan.

Catatan Akhir

Beberapa catatan penutup berikut mungkin dapat “memprovokasi” kita untuk memikirkan dan merancang ulang desain kurikulum manajemen.

  1. Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) seharusnya lebih diperdebatkan dan digali dari sudut pandang substansi filosofisnya, bukan administrasinya. Apakah MBKM sekadar merdeka memilih tempat belajar? Semerdeka apa proses pendidikan kita? Bagaimana dengan merdeka bersuara kritis?
  2. Dari berbagai literatur tentang pendidikan manajemen, cased based learning dan project based learning adalah pilihan utama untuk menumbuhkan high order thinking skills sebagaimana tuntutan abad 21 (berpikir kritis, berpikir sistem/komputasional, berpikir desain). Bukankah perlu untuk memetakan dan mengelompokkan mana saja mata kuliah yang didesain berbasis cased-based learning, mana yang project-based learning? Kedua model pembelajaran ini sepertinya perlu didiskusikan lebih lanjut penerapannya di setiap mata kuliah.
  3. Dalam literatur manajemen pengetahuan, ada hierarki yang disebut DIKW: data, information, knowledge, wisdom. Banyak penulis jurnal di literatur ini menyatakan bahwa di era masa lalu dan sekarang, manusia berpengetahuan sudah banyak muncul. Kurikulum selalu dikembangkan untuk membentuk manusia berpengetahuan. Tetapi, tinjauan kritisnya adalah dunia belum menjadi lebih baik. Kejahatan lingkungan merajalela. Berbagai kejahatan kemanusiaan, termasuk dalam bisnis, juga mengemuka. Di era sekarang dan mendatang, manusia yang penuh kearifan menjadi penentu keberlanjutan kehidupan kita. Pertanyaannya, sudah sejauh mana proses pendidikan kita mendorong pembentukan manusia yang arif? Nampaknya, kita harus kembali lagi mempelajari filsafat dan kearifan nenek moyang kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
X